Pemain PSMS latihan mandiri selama pemberlakukan PPKM darurat

Harapannya ya bisa kompetisi bisa jalan lagi dan kita bisa kumpul untuk latihan kerja keras lagi

Medan (ANTARA) – Pemain PSMS Medan menggelar latihan secara mandiri selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kota Medan hingga 20 Juli 2021, dalam upaya untuk menjaga kondisi agar tetap bugar.

“Jadwal libur sampai tanggal 20, tapi saya tetap latihan mandiri di rumah,” kata salah seorang pemain PSMS, Rahmad Hidayat, di Medan, Kamis.

Untuk menjaga staminanya, Rahmad melakukan latihan saat pagi dan juga sore hari. Latihan di pagi hari dilakukannya setiap hari. Sementara sore hari, ia menjadwalkan tiga kali dalam sepekan.

Baca juga: PSMS minta PSSI tegas soal jadwal liga

“Biasanya pagi, kalau sore kadang aku numpang latihan di lapangan Jasdam,” kata Rachmad.

Ia berharap, situasi pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia terkendali dan segera usai, demikian juga PPKM Darurat yang dilakukan membuahkan hasil yang bagus.

“Harapannya ya bisa kompetisi bisa jalan lagi dan kita bisa kumpul untuk latihan kerja keras lagi,” katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bagaimana ia menjaga kesehatan pada masa pandemi selain menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga: PSMS libur latihan terdampak PPKM darurat di Medan

“Paling olahraga dan makan yang teraturlah bang,” katanya.

Sebelumnya Manajemen PSMS Medan secara resmi meliburkan seluruh kegiatan tim termasuk pemain mulai Senin (12/7) hingga Selasa (20/7) karena PPKM darurat yang diterapkan di Kota Medan.

Sekretaris Umum PSMS, Julius Raja, mengatakan apa yang dilakukan seiring agenda yang diberlakukan oleh pemerintah kota setempat dan kelanjutan latihan akan diinformasikan manajemen setelah 20 Juli.

“Surat pemberitahuan penghentian semua latihan sudah dibuat dan ditembuskan kepada Pembina PSMS Edy Rahmayadi dan Kodrat Shah,” katanya.

Baca juga: PSMS tunda datangkan empat pemain baru

Pewarta: Juraidi
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumber

__Posted on
15 July 2021
__Categories
Indonesia