Kisah Olimpiade Kuno 2.400 Tahun Lalu: Tampil Telanjang, Disaksikan Perempuan Lajang hingga Hadapi Cuaca Ekstrem

OLIMPIADE Tokyo 2020 resmi digelar pada Jumat 23 Juli 2021 malam. Sejumlah negara pun sudah mendapatkan medali, termasuk Indonesia yang meraih medali perunggu via Windy Cantika Aisah di cabang olahraga angkat besi kelas 49 kg putri.

Olimpiade Tokyo masuk kategori modern, yang pertama kali diselenggarakan di Athena, Yunani pada 1896. Namun, sebelum ada kategori modern, lebih dulu ada yang Namanya Olimpiade kuno, yang juga diselenggarakan di Yunani.

Olimpiade Tokyo 2020

(Suasana pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: REUTERS)

Olimpiade dimulai lebih dari 2.400 tahun lalu di Olympia, di Peloponnese, Yunani. Setiap empat tahun, sekitar 50.000 orang berdatangan dari seputar Laut Tengah,

Tak ada medali emas, perak, ataupun perunggu. Pemenangnya akan mendapatkan mahkota rangkaian daun dan buah zaitun. Mereka disambut seperti pahlawan.

Para atlet bertanding untuk mengangkat kejayaan kota mereka dan para pemenang dianggap telah disentuh oleh para dewa. Namun seperti apa suasana Olimpiade kuno yang dilaksanakan pada tahun 436 Sebelum Masehi?

Bagaimana Caranya Menuju Olimpia?

Kota Kuno Olympia

(Kota Kuno Olympia tampak dari atas)

Banyak yang melalui zona perang untuk dapat sampai ke Olimpia. Walaupun saat itu ditetapkan gencatan senjata selama pertandingan Olimpiade, namun tetap saja perang berlanjut di sejumlah tempat.

Artinya, para atlet mungkin saja menghadapi pertempuran saat dalam perjalanan dan perlu sangat berhati-hati.

Yang boleh masuk ke arena pertandingan hanya pria dan perempuan lajang alias belum menikah. Perempuan yang sudah menikah tidak boleh masuk.

Dengan banyaknya jumlah penonton yang juga berbondong-bondong, perjalanan ke kota Yunani itu juga sangat lambat karena macet.

Di Mana Mereka Tinggal?

Hotel Leonideo

(Hotel Leonideo, tempat para tamu kehormatan dan pengurus menginap)

Puluhan ribu orang menuju Olimpia yang dianggap sebagai tempat suci dan tak berfungsi penuh sebagai sarana olahraga, dengan prasarana yang sangat minim. Sayangnya, Olimpia hanya memiliki satu hotel, Leonideo. Harga menginap di sana di luar jangkauan para penonton, sehingga dikhususkan bagi para tamu kehormatan dan pengurus.

Penyewaan tenda dan paviliun dari kanvas tersedia namun banyak yang berminat dan harganya juga sangat mahal.

Jadi saat itu, sebagian besar penonton membawa tenda mereka sendiri. Tetapi ada juga yang tidur di tempat terbuka.

Bagaimana Mencari Makanan?

Semua jenis makanan tersedia di luar stadion dan arena pertandingan, namun para penjual makanan sengaja menaikkan harga. Jadi para penonton perlu berhati-hati supaya tak terperangkap.

Namun, para penonton ada yang bersabar untuk menunggu sampai hari ketiga pertandingan, karena ada 100 lembu yang dikorbankan sebagai persembahan bagi Dewa Zeus.

BACA JUGA: Perjuangan Keras Anak Penjaga Sekolah hingga Bela Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Siapa Dia?

Para hari itu, biasanya dilaksanakan saat bulan purnama, menjadi arena panggang lembu. Sebagian daging disisihkan untuk Dewa Zeus, namun selebihnya dibagikan untuk 50.000 penonton. Jadi tak ada yang akan kelaparan.

Sumber

__Posted on
25 July 2021
__Categories
All Sport